Masa Jeda


"Kesatria Cahaya tahu bahwa dalam pertempuran kadang-kadang ada masa-masa jeda yang singkat." - Paulo Coelho


The Manual of Warrior of Light


Ketika pencarianmu tidak membuahkan hasil, itu bukan berarti kamu gagal.
Ini semua hanya masalah waktu.
Waktu untuk menemukan "masalah" di sekitarmu.
Menemukan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan tidak semudah mengeksport file .doc ke .pdf di Ms. Word 2013.
Dan ketika pencarianmu belum menghasilkan .doc, tenang saja. Jangan bersedih, setidaknya kamu menghasilkan sesuatu dalam format format .cdr, dan itu bukan berarti kamu tidak akan sampai ke tujuan.
Sekali lagi, ini hanyalah masalah waktu.
Seperti yang Kakek Paulo tuliskan, anggap saja ini adalah masa jeda.
Ya. Setidaknya hari ini kamu meghasilkan sesuatu, Yan!

Karena lebih baik ditegur oleh laptop sendiri daripada ditegur oleh orang lain. Ya, setidaknya dia tidak bersuara :p

01012014



Seiring berlalunya waktu. Hari berganti hari, musim berganti musim. Segala sesuatunya berubah. Satu hal yang pasti bahwa perkataan-Nya tidak akan berlalu dan kasih-Nya tetap untuk selamanya.

 
Sumber gambar : Google
Hai, 2014. Ini pertemuan kita yang pertama. Kamu masih penuh misteri, 2014. Aku ingin berteman baik denganmu. Kamu?

Dua ribu empat belas,   kejutan apa yang telah Kamu sediakan untukku dalam 365 harimu? Ada berapa banyak canda tawa? Ada berapa banyak wajah baru yang akan Kau perkenalkan padaku? Adakah tempat yang belum pernah aku pijak sebelumnya yang akan kudatangi kali ini? Siapa pemimpin hebat yang telah Kau sediakan untuk memimpin negeriku ini? Akankah Ricardo Kaka main di Piala Dunia nanti? Ah, aku tak sabar dengan kejutan-kejutanmu itu, 2014.

Ada banyak asa yang digantungkan di langit 2014. Dari sekian banyak asa yang menggantung itu, beberapa diantaranya adalah milikku. Permintaanku pun tidak aneh-aneh. Sama seperti yang lainnya, Aku hanya ingin menciptakan senyuman di wajah orang-orang yang kukasihi. Bantu aku untuk menciptakan senyuman itu.

Bersahabatlah denganku, 2014 :)
Oya, Aku lupa perkenalkan diriku. Aku 20 tahun, anak ke-1 dan lahir pada tanggal 4. Ada kesamaan, bukan? ;)

“Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22).

Cerita dari 22 Juni 2013


"Thanks God for everything.”
Hanya kalimat itu yang bisa saya ucapkan.Sungguh, sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan apa yang saya alami saat ini"

Pagi kali ini disambut oleh suara yang awalnya sayup-sayup kudengar. Awalnya saya kira suara itu adalah suara orang mengaji di Masjid tapi kali ini suaranya agak lain, setelah kupertajam pendengaranku ternyata bukan, suara itu adalah suara orang-orang di Bitung yang sedang bersaat teduh.

 "Saya kira suara dari Masjid nah," ucap Fina yang ternyata juga meneliti suara itu. Dia adalah seorang teman perjuanganku dari Fakultas Hukum.

" Iya, saya kira juga." Jawabku.

Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun hidupku, dibangunkan oleh suara yang berasal dari rumah Tuhan. Saya baru ingat bahwa saya sedang berada di Sulawesi Utara, di Kota Bitung tepatnya. Mayoritas penduduk disini beragama Kristen. Ya, saat ini, kami sudah sampai di Kota Bitung. Kota ini dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 2 jam dari Kota Manado. Saya cuma bisa duduk terpaku diatas tempat tidur ala tentara yang mirip tandu ini, dan bersyukur karna Tuhan sudah bawa saya ke tempat ini. Maklum, selama ini saya tingal ditengah-tengah saudara-saudara yang mayoritas adalah Muslim. Segala sesuatu yang dialami untuk pertama kali pasti terasa istimewa, begitu pun dengan yang saya rasakan di 22 Juni 2013 ini.

Sore nanti kami akan berangkat ke pelabuhan, namanya Pelabuhan Kota Bitung. Masih ada waktu untuk berleha-leha,untuk melihat-lihat kota, atau untuk sekedar membaringkan badan ditempat tidur. Saya memilih opsi pertama, yakni berleha-leha di tempat tinggal kami sementara. Berbeda denganku, beberapa teman pergi ke pasar untuk belanja. Sedangkan sisanya memilih untuk membaringkan badan sampai pada waktu keberangkatan tiba.

Udara di tempat yang kami tinggali itu sangatlah panas, padahal tak jauh dari tempat tinggal kami ada gunung yang lumayan tinggi.  Ya, kulihat ada sebuah gunung yang lumayan tinggi di dekat penginapan kami. Gunung tersebut saya lihat ketika saya dan Ria pergi belanja ke Toko Victor. Cukup aneh memang, lokasi kami dekat dengan gunung akan tetapi hawa di temapt tinggal kami cukup panas. Ada yang lucu ketika kami belanja di Toko itu, saya dan ria dikira orang Manado. Entah, kami pun tidak tahu kenapa ibu penjualnya berpikiran demikian. Anggap saja ini sebuah presetasi :) Tak lama setelah kami pulang belanja dari Toko Victor, teman-teman yang belanja ke pasar sudah kembali di penginapan. Namun ada satu hal yang lucu, ya salah seorang teman kami, Ai, ketinggalan di Pasar.  Antara khawatir dan lucu, entah bagaimana ceritanya mereka bisa lupa Ai. Syukurlah, tak lama Ai kembali ke penginapan.
Tiba saatnya untuk berangkat ke pelabuhan. Ada beberapa tangan-tangan Tuhan yang bersedia membantu kami, para perempuan, mengangkat koper, carrier, dan beberapa barang bawaan lannya ke dalam truk tentara. Perjalanan dengan truk tentara kali ini berbeda dengan perjalanan dengan truk tentara yang semalam. Kali ini jarak tempuhnya lumyan dekat. Saya masih teringat dengan perjalanan semalam. Meskipun telinga sudah mulai bosan karna sepanjang jalan mendengar suata sirine dari mobil tentara akan tetapi  sepanjang jalan mata ini dimanjakan dengan panorama yang indah, saya suka bagian ini, terutama bagian dimana mata ini melihat bangunan-bangunan Gereja yang berdiri kokoh di sepanjang jalan.

Beberapa teman sedang mengangkat tas ke atas truk. (Foto by : Tim Dokumentasi)


Leaving for Port of Bitung (Foto by : Tim Dokumentasi)
Bersama Icha dan Pak Supir, saya duduk dibagian depan mobil. Begitu kami masuk pelabuhan Bitung, mata kami mulai menerka-nerka, kira-kira kapal tangguh mana yang akan mengantarkan kami ke Pulau Miangas. Setelah besi beroda empat itu mulai memperlambat lajunya, mata kami tertuju pada satu Kapal Megah yang bertengger dengan anggunnya di Pelabuhan Bitung. DORO LONDA, begitulah tulisan besar yang tertera di saping kapal tersebut. Kapalnya cantik sekali, catnya berwarna putih dengan beberapa bagian yang berwarna orens. Disitu, semsesta menggiring saya dan Icha beranggapan bahwa Kapal DORO LONDA-lah yang akan membawa kami ke beranda utara Indoensia itu. Sayang seribu kali sayang, dugaan kami salah. Adalah satu besi terapung yang berada tak jauh dari DORO LONDA yang akan membawa kami berlayar ke Miangas, Meliku Nusa namanya.

Kapal DORO LONDA (Foto by : Tim Dokumentasi)


Terima kasih,Teman-teman :) (Foto by : Tim Dokumentasi)
Beberapa peserta KKN Miangas memindahkan bibit dari truk ke atas K.M. Meliku Nusa. (Foto by : Tim Dokumentasi)

Tampilannya sangat kontras dengen DORO LONDA, mulai dari warna, usia yang kelihatannya terpaut cukup jauh, dan yang paling penting adalah ukuran yang sangat jauh berbeda. “Mungkinkah Kapal ini bisa membawa kami dengan selamat sampai di tujuan? Atu tidak apa-apakah jika kapal ini ditambah bobotnya sebanyak kami ber-76 serta bawaan kami yang beratus-ratus kilo?” Pertanyaan yang saya simpulkan dari mimik-mimik wajah teman-teman seperjuangan. Seperti pepatah yang saya lupa penciptanya, “A ship is safe in a harbor. But that’s not what ship are for” Yap, Meliku Nusa have to sail.

Meliku Nusa tampak dari belakang. The one and only ship which is leaving for Miangas Island. (Foto by : Tim Dokumentasi)

Salah satu pemandangan di Pelabuhan Bitung.  (Foto by : Tim Dokumentasi)

Terima kasih untuk tangan-tangan yang masih bermurah hati mau mengangkatkan barang-barang kami (tas, koper, carrier, dll), khususnya perempuan, yang bisa dibilang banyak sekali jumlahnya. Upahmu besar di Surga :)
Sekitar enam jam kami menunggu di sana, diatas K.M. Meliku Nusa, kami sempat main kartu dan makan bersama, serta mengabadikan momen hingga menghasilkan beberapa Megabyte gambar di DSLR. Waktu keberangkatan semakin dekat, beberapa teman dan saya mulai sibuk dengan handphone masing-masing, tujuannya sama yaitu pamit ke keluarga yang jauh disana. Akhirnya, sekitar tengah malam, Meliki Nusa menaikkan jangkarnya, berlayar untuk membawa kami ke Miangas.

21 Juni 2013



"Serumit apapun jalan yang kamu lalui, pastilah akan mengantarkanmu pada tujuan. Ini hanya masalah waktu, Kawan." - Jayanti M.M.S.
Juni dan Bandara biasanya selalu menyenangkan. 
Ya, semenjak kuliah, Juni dan Bandara selalu menjadi waktu yang dinanti.
Ada yang berbeda di Juni dan Bandara kali ini. 
Tujuan yang berbeda dari biasanya, kali ini bukanlah Tanah Sunda yang menjadi tujunku. Sebuah provinsi di Utara Indonesia, salah satu kota yang ada dalam list "I'll be There"ku, Manado.

Terasa sedikit aneh saat hendak keluar dari kost, tidak ada seorang pun yang bisa kupamiti. Kebanyakan sudah pulang kampung, sementara yang masih tinggal nampaknya sedang pergi. Entah kemana.
Kamu tahu rasanya mau pergi jauh tapi tidak pamit dulu? Atau lebih tepatnya tidak ada yang dipamiti?
Sedih.

Sampai di Bandara Sultan Hasanuddin, waktu itu kami sewa taksi bertiga. Taktik anak kost untuk menghemat cost. Ria dan Winria lah yang menjadi teman sepertaktikan itu.
Terlihat sudah ada beberapa pasukan Merah yang tengah berkumpul di terminal keberangkatan. Tidak seberuntung teman-teman yang lain, senang bercampur sedih melihat teman-teman yang diantar oleh orang tua mereka. Sudahlah, demi misi kemanusiaan - KKN - liburan kali ini tidak usah pulang, liburan kali ini menampung rindu dulu. 

Ada Yayu dan Unhy yang datang untuk sekedar melepas keberangkatan kami di Bandara siang itu, padahal pada malam harinya mereka juga akan berangkan ke lokasi KKN mereka masing-masing. Apa artinya? Tidak ada yang mengantar mereka ke Kampus nanti malam. Terima kasih kawan karna sudah dan selalu berusaha untuk menjadi teman terbaik.

Kiri-Kanan : Juanda, Icha, Unhy, Ria, Me, Yayu, Ayu, dan Darmin (Foto By : Muhammad Fadhly)


Masuk ke dalam pesawat, waktu itu Saya duduk di kursi nomor 11D, namun karena ada keluarga yang baik hati akhirnya saya bisa duduk di pinggir jendela. Saat pesawat akan take off, dari posisi di tempat saya duduk, saya bisa melihat patung Sultan Hasanuddin berdiri dengan tegapnya dari arah jam satu. Langit jingga yang menjadi latar patung itu menambah keindahan pemandangan yang tercipta.

Saya kira pemandangan terindah di tanggal 21 Juni 2013 sudah diperlihatkan oleh semesta pada saat pesawat take off . Ternyata saya terlalu cepat mengambil kesimpulan, Kawan. Masih di kursi 11F, saya melihat ribuan lampu berkedip-kedip seakan menyambut kedatangan kami - Mahasiswa KKN Miangas- di Kota Manado. Mataku tak mau lepas dari kumpulan lampu-lampu itu, rasanya masih ingin berlama-lama diposisi ini. Indah, sangat indah. 

Pikiranku langsung teringat pada seorang sosok yang kukenal dari buku yang  kubaca waktu SD. Dia adalah Thomas Alfa Adison, sang penemu bola lampu. Jika dilihat secara fisik, penemuannya kecil. Tapi memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Semua orang pasti setuju, kalau satu demi satu bola lampu berkumpul dapat menghasilkan landscape yang indah.

Keindahan, saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menggemari kata ini. Ya, itulah kesimpulan untuk 21 Juni 2013.  Keindahan.

Seperti kumpulan bola lampu yang kita lihat saat pesawat mendarat. Jika masing-masing dari kita, Peserta KKN Miangas, adalah bola lampu, maka kita perlu menyatu agar bisa menjadi terang dan menjadi indah di tempat dimana kita ditempatkan :)

The Journey just begin.





 

In the middle of 2013

Hari keempat belas di pertengahan 2013, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Rasanya baru kemarin memaparkan resolusi-resolusi yang ingin dilakukan di tahun ini, kini tiba saatnya untuk mengevaluasi tiap resolusi yang telah kutuliskan di buku itu.
Sudah setengah tahun, ada banyak kejutan yang patut disyukuri dari 2013 yang ditujukan untukku.
Ada revolusi yang telah tercapai, tentu ada juga yang belum, dan ada yang masih dalam proses. 

Entah mengapa tiba-tiba teringat pada postinganku di awal tahun. Yah, efek dari ketidak ada kerjaan akhir-akhir ini, membuat pikiran lari kesana-kesini. 
Kembali ke postingan diawal tahun, ada pertanyaan terselip di akhir postingan itu. Pertanyaan yang kutujukan pada waktu, pada 2013, yang kini mulai terjawab.

Pertanyaan tentang kejutan yang disiapkan oleh 2013, pertanyaan kemana 2013 membawa kaki yang hobi jalan-jalan ini melangkah.
Jawabanya tersedia sekitar sebulan yang lalu. Saat pengumuman Seleksi KKN Miangas diumumkan. 

Ya, Miangas adalah jawabannya. Tempat yang tidak pernah kupijak sebelumnya, bahkan terlintas dibenakkku pun tidak.
Ya, aku dan ke-73 teman-teman yang lain bersyukur akan hal itu.
Ya,  kami sudah tidak sabar untuk perjalanan ke Utara ini, Pulau terluar di Utara Indonesia, Miangas.

Can you see our Miangas? *Sumber gambar : google*


Pulau indah di batas utara Indonesia, Miangas. *sumber gambar :google*