Preman Cipeundeuy





Anastasia Sianturi
Perhatikan gambar di atas. Ada yang tampak aneh? Ya,semua elemen yang ada pada gambar diatas merupakan cerminan seseorang yang saya sebut Preman Cipeundeuy.
Mukanya penah muncul kok dipostingan gw yang awal-awal. Namanya Anastasya Sianturi. Semua orang manggil dia Tya, tapi gw manggilnya Anas. Kayak chibi banget gitu loh kalo manggil dia pake sebutan Tya.

Well, beberapa hari yang lalu entah karena kesambet setan apa, Anas tiba-tiba bikin tulisan buat gw. Ya, dimaklum aja. Mungkin dianya lagi kangen gitu sama gw :p.
Dan gara-gara itu, gw ngerasa punya hutang juga lah ya. Makanya gw nulis juga deh buat elo, Nas. Sebenernya sih gw bingung mau nulis tentang apa lagi dari lo. Kan udah banyak banget yang gw bahas tentang lo dipostingan  gw yang dulu. Haha.

Bisa dibilang kartu AS gw dia yang pegang. Nah lho. Bahaya kan?
Dia temen gw nge-bolang. Ya, kami berdua hobi jalan-jalan. Kami juga hobi cuci mata, dan selalu pilih sumber vitamin A yang sama walau gak bilang-bilang sebelumnya. Satu selera.
Kadang kalo gw mau ngomong sesuatu atau ngomentarin satu hal, pasti aja  udah keduluanin duluan  sama dia. Kadang juga kebalikan.  Kalo koneksinya lagi bagus, dia cepet banget nangkap kode, kalo lagi kambuh penyakitnya suka ga nyambung. Gw ngomeng apa, dia nanggepinnya apa.
Kalo moodnya lagi bagus, anak ini asik diajak ngapain aja. Kalo moodnya lagi jelek, mit amit deh.
Banyak banget yang gw gak bisa lupa sama anak ini, temen seperjuangan dalam hal apapun.Tsaaah.
Kelas tiga SMA Anas sering banget gentayangan ke kelas gw. Nangkring di depan pintu. Nyerita. Nyeritanya bisa tentang apa aja, sosial, politik, sampai kepada pencintrongan. Ahey.

Kali ini gw mau nyerita lewat foto aja, gw pernah baca tulisan yang bilang kalo sebuah foto bisa mewakiliseribu kata. Nah, gw gak tau deh foto-foto dibawah ini mewakili berapa ribu kata, makna, dan rasa. Ihiiiy.
Ini waktu gw sama Anas masih Marguru Malua (Belajar Katehisasi) Gilak. gw syok. Di foto ini gw masih kurus. Hah.

Ini waktu kita di Tangkuban Parahu dan kami masih 4L4Y.

Foto di kaca -______-"

Lagi. Tangkuban Parahu, Kali ini gaya kita sok sensual.

Gak tau kesambet setan apa sampe pas minum coca-colapun harus difoto.
Ini pas gw sama Anas di SIDI. Ya, unforgetable moment lah ya.

Lagi, foto di kaca. Suatu siang si toilet Gereja,sebelum Kebaktian. Kalo gak salah pas hari Paskah.

Pas Natal Remaja yang digabung sama N-HKBP.
(sengaja gw zoom biar keliatan). Ini pas kami Manortor (Nari tarian Batak) di Gereja. Oke. Lo pasti gak nyangka kalo gw punya gambar beginian kan Nas? Liat yang pake sweeter pink? Itu gw, dan yang samping gw itu Preman Cipeundeuy. Dan gw mau tanya, emangnya tari tor-tor ada adegan angkat kakinya ya, Nas? Hahaha. 

Lagi. Foto pas manortor. Ya, ampun, badan kita Nas~~~ Nah, yang dibelakang itu yang di panggung,yang pake baju kuning, namanya Viktor Hutabarat. Ga kenal? Kamu gak gaul!!!


Pas kelulusan SMA :')
(Kiri-Kanan : Agita, Sinta, Winda, Dinar, Alfi, Gw, Anas)

Masih pas perpisahan SMA. Sumpah, kita gak kobe banget.

Mungkin lebih mirip girl-band versi kebayaan kali yak?
(Kiri-Kanan: Winda, Fhali, Dinar, Sinta, Melly, Alfir, Gw, dan  Anas)
Nah,itu baru seupret dari bejibiun moment bareng kita. Cerita pake foto ajah bisa sebanyak itu. Kebayang kalo gw tulis. Bisa gempor ini jari.
Ini tulisan balasanku, apa komentarmu?

Happy Late Birthday, Janggole.

Kenal sama orang ini udah lama, dulu banget malah.
Pas kelas 1 SMA. Dulu gw di kelas X.1 sedangkan dia di X.2. Sering satu angkot kalo pulang sekolah, tapi gak pernah tegur sapa. Pertama kali ngobrol sama dia pas dia gak bawa baju olahraga, kebetulan mata pelajaran olahraga kelas gw sama kelas dia sama. Dengan sigap dia dateng ke kelas gw, dia minjem baju olah raga gw. Oh men.(Ini ceritanya baru kenalan).
Namanya Dina Sonyah, biasa dipanggil Dina, Jamole, Janggole, Sonyah, dan yang terakhir yang panggilan yang paling gw suka Nenek-nenek Belanda.


*Ini dia,  gayanya si Janggole di buku tahunan*


Beranjak kelas 2 SMA, gak disangka-sangka gw duduk sebangku sama anak ini. Awalnya sih gw duduk sama Tyas (Temen sekelas di X.1) tapi gak tau kenapa dia bilang gak jadi. Dia jadinya duduk sama Yeti (yang juga dari kelas X.2).
Dua tahun duduk sebangku sama anak ini, dan gw bersyukur (kali ini  gw din). Ya, sebelum gw sebelum elo lupa lupa lebih baik gw tulis. Semester demi semester gw duduk bareng sama lo. Banyak cerita, banyak pelajaran yang bisa gw petik sampe menghasilkan banyak ingatan kayak yang pernah elo bilang, entah itu anugerah atau musibah.
Satu hal yang gw bingung Din, dari sekian banyak momen sama-sama, kenapa foto gw sama elo dikit banget. Kalo pun ada pasti gayanya alay.
Pengennya sih gw cerita banyak, Din. Tapi gw pusing mau nyerita darimana dan mau namatinnya gimana, karena gw tau cerita ini belum tamat. Jadi gw ceritain bagiann awalnya aja ya? Kalopun harus gw tulis bukan disini tempatnya, haruslah ada di kumpulan kertas berhalaman yang ada nomor terbitnya.
Well, Happy Birthday Dina Sonyah. Semoga semua yang ada di-list elo bisa jadi kenyataan. Tetep jadi Dina yang apa adanya tapi tidak lebih janggol dari Kim Kardashian.

Sincerely,
Preman Einstrend.


Thank you 2012, Halo 2013.


Dear lovely 2012.
Terima kasih banyak 2012 untuk setiap kenangan yang melekat dimasamu.
Terima kasih untuk canda tawa bahkan tangis air mata yang ada.
Terima kasih untuk saat-saat dimana aku bisa mengeluh dan bersyukur.
Terima kasih untuk orang-orang terkasih yang sentiasa ada dalam hidupku.
Terima kasih telah mengirimkan mereka orang-orang mau menjadi batu loncatan ataupun  batu sandungan  bagiku.
Terima kasih karna aku menjadi 19 tahun di bulan keduamu.
Terima kasih untuk setiap kenangan manis dan pahit yang ada.
Terima kasih untuk kenangan di Salemba bersama Greatmates yang terkasih.
Terima kasih untuk kenangan di Yogyakarta serta cerita yang ada berkat Hand*yo dan Kr*mat Djati.
Terima kasih karna telah membawa Tiwi, Yayu, Rahmah, dan Ria ke Purwakarta.
Terima kasih karna telah membawa Saya, Yayu, dan Unhy ke rumah Tiwi di Tana Toraja.
Terima kasih kasih untuk kepanitiaan terakhir diakhir tahun bersama Greatmates.
Terima kasih untuk Pantai Bira.
Terima Kasih untuk semuanya.
I never say goodbye, coz saying goodbye means leaving, and leaving means forgetting (Peter Pan)
and….

*sumber gambar : google*

Hallo 2013.
Ada banyak asa tergantung di langit 2013.
Kejutan apa yang telah kau siapkan untukku, 2013?
Kemana akan kau bawa diri yang senang jaan-jalan ini?  Apakah tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya? Kuharap jawabanmu adalah “ya” ;)

*sumber gambar : tumblr*

Well, you knew the reason right? :)
*sumber gambar : tumblr*

Well, Happy New Year. Feliz 2013. Selamat Tahun Baru.
Once again, Hallo, enchanting 2013.

With lots of hope,
Your undiscipline Soldier.

Makassar di luar Kotak Televisi


            Kota ini dulunya bernama Ujung Pandang dan merupakan Ibu Kota dari Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu Makassar merupakan kota terbesar dan menjadi pusat perdagangan di kawasan Indonesia Timur.
            Seperti halnya kota-kota lain yang ada di Indonesia, Makassar pun memiliki keistimewaan dan ciri khas yang lain daripada kota-kota lainnya. Baik itu dari segi budaya, bahasa, pariwisata, kuliner, tata kota, dan lain sebagainya.
            Pemberitaan berkaitan hal-hal negatif mengenai kekerasan yang ada di kota ini kerap kali mewarnai layar kaca masyarakat Indonesia. Sehingga tak jarang banyak orang yang beranggapan bahwa Makassar merupakan kota yang rusuh. Hal itu sama sekali tidak benar. Yang namnaya keributan, kerusuhan, dan kejahatan itu terjadi dimana-mana, tidak hanya di Makassar saja. Jangan sampai pengetahuan kita mengenai Makassar hanya sebesar kotak Tv yang ada di rumah saja.
            Makassar merupakan kota yang patut dijadikan tujuan wisata. Mengapa demikian? Di Makassar ada beberapa tempat wisata yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Pantai Losari, Fort Rotterdam, Benteng Somba Opu, Pulau Samalona, Pantai Akkarena, Tanjung Bayang, Trans Studio Makassar, dan lain sebagainya. Kota ini tidak terlalu besar, sehingga memungkinkan bagi para wisatawan untuk menikmati tiap sudut Kota ini dalam waktu satu hari saja.
            Bandara Sultan Hasanuddin merupakan Bandar Udara yang ada di Makassar, memiliki arsitektur yang indah dan merupakan salah satu bandara terbaik yang ada di Indonesia. Selain itu Makassar juga memiliki Pelabuhan yang cukup sibuk, yakni Pelabuhan Soekarno Hatta yang pernah menjadi pusat perdagangan pada jaman dahulu bahkan sampai sekarang.  Makassar juga memiliki satu tempat perbelanjaan yang unik, yakni Karebosi Link yang terletak di bawah tanah (tepatnya di bawah Lapangan Karebosi). Hal ini merupakan salah satu program pemanfaatan lahan yang dilakukan di Kota ini.
            Bahasa yang digunakan? Jangan takut tidak dapat berkomunikasi dengan penduduk sekitar apabila datang ke Makassar. Bahasa Indonesia merupakan Bahasa yang digunakan disini, bahkan bisa dibilang bahwa Bahasa Indonesia yang digunakan disini terbilang Bahasa Indonesia yang Baku. Ada satu hal yang unik dari penggunaan kata panggilan di Makassar. Kata “kita”  biasa digunakan untuk menunjuk orang kedua atau lawan bicara (sama dengan kata ‘anda’) dan kata “kita” digunakan untuk menujuk kita (jamak). Selain itu penduduk disini jug baik-baik, begitu pula dengan para supir angkutan umumnya. Jika kita menanyakan alamat di Makassar jangan khawatir untuk ditipu, karna mereka akan menunjukan jalan yang benar. Hal ini merupakan pengalaman pribadi saya, maklum saya merupakan pendatang di kota ini sehingga saya kerap kali tersesat.
            Masih berkaitan dengan transportasi di Kota Daeng ini, angkutan umum di Makassar dinamakan “pete-pete” dan beberapa dari pete-pete tersebut dilengkapi dengan layar televisi pada bagian depannya dan dilengkapi dengan sound yang maksimal. Beralih ke kendaraan yang lebih besar, yakni bus. Bus antarkota yang ada di Makassar merupakan bus terkeren yang pernah saya naiki. Bus yanga ada  disini berbeda dengan yang ada di pulau Jawa. Mau tahu kelebihannya? Disini busnya antarkotanya memiliki ukuran tempat duduk yang lebih besar, suspensi yang keren, dan satu hal yang paling membuat saya terkejut adalah sandaran kaki yang menempel di kursi busnya yang membuat penumpangnya bisa duduk selonjoran, selain itu dilengkapi pula dengan selimut dan bantal. Jadi, walaupun kita akan melakukan perjalanan jauh kita tidak usah khawatir tidak dapat tidur nyenyak.
            Dari segi kuliner kota ini pun tidak kalah, Makassar memiliki naeka kuliner khas Kota Anging Mamiri. Siapa yang tidak kenal dengan Cotto Makassar? Kuliner khas Makassar yang satu ini sangat lezat rasanya, dan apabila anda berkunjung ke Kota Makassar maka anda akan menemukan banyak sekali penjual Cotto Makassar. Selain Cotto, masih ada banyak kuliner lainnya seperti Konro Bakar, Sop Konro, Pallubasa, Jalangkote, Pisang Eppe (pisang yang diolah dengan cara dibakar dan banyak ditemukan di sepanjang pantai Losari), Es Pisang Ijo, dan lain sebagainya.
            Tulisan diatas barulah sebagian kecil mengenai kota Makassar yang saya ketahui setelah tinggal selama dua tahun disini. Satu pesan saya, Don’t judge a country just by your Tv Screen. Explore it then you can see the reality.

Selamat Hari Blog Nasional

    Hallo yang matanya lagi tertuju kepada kumpulan alfabet yang saya ketik ini, semoga kamu sehat-sehat aja ya :)

    Hari ini, 27 Oktober  yang merupakan hari blog nasional. Saya tau hal ini dari tweet salah satu lembaga yang saya folllow di twitter, dan saya baru tau lho kalo ternyata ada juga hari blog nasional. Ya, dalam hal ini jejaring sosial ini memberikan nilai informasi kepada saya.

*Sumber  gambar : Google*

    Gak tau kenapa, setelah baca tweet tadi saya langsung terpanggil ajah gitu buat menulis, ya daripada nothing to do. Ya gak?

    Kalo ditanya kenapa sih harus nulis? Kenapa juga harus di blog? Simple aja sih, hobi orang kan beda-beda dan itu semua tergantung pilihannya orang. Hehe. Terus kenapa saya nge-Blog? Jawabannya simple, cukup baca deskripsi mengenai saya saja yang ada di samping kanan :) Yakin deh, kalo yang namanya tulisan di blog gak bakalan hilang walaupun diterjang sama Badai Katrina sekalipun (Oke. kali ini saya berlebihan).

     Intinya tulisan ini cuma ucapan selamat saja. Selamat Hari Blog Nasional. Terima kasih kepada sang penemu blog (i.d.k who), temuanmu memberikan banyak manfaat untukku :) Siapapun kamu, semoga kamu diberkati.

Tulisan dari :
Jayani MMS.

Inilah alasannya, karena bahagia itu sederhana.


Karena bola itu bundar, bukan segitiga, apalagi trapesium.
 
   Sekarang masih jam 02.27 WITA, sambil nunggu Liga Champions (Dorthmund x Real Madrid) main, saya pengen nge-post dulu. Jujur saya nge-post ini karena lagi mau jujur.

      Masih segar banget ingatan saya akan kuliah Opini Publik dan Pencitraan di ruang A1 tadi siang, dan tadi yang ngajar adalah Kak Riza. Singkat cerita, tadi kami lagi diskusi mengenai Opini dan Publik dari fotocopy-an yang dibagi sama Kak Fadhly tadi. Kami pun mulai bahas materi, bla bla bla and bla bla bla. Gak lama kemudian mulailah kami membicarakan hal yang (secara pribadi) menjadi pikiran buat saya.

     Intinya kami itu tadi membahas menganai orang yang maniak Bola, kami mulai membahas satu persatu nama klun dan nama fansclub-nya. Mulai dari Internisti, Milanisti, Liverpooldian, Bacelonista, dan terakhir disebutlah Madridista. Sontak teman-teman dekat saya langsung mengarahkan matanya pada saya. Saya masih nyantai dan biasa aja ketika itu, tetep kalem dan mendengarkan penjelasan Kak Riza.

      Gak lama kemudian, perbincangan menjadi semakin meluas, dan masih "hal itu" yang dibahas. Kali ini Kak Riza mulai bahas live tweet yang dilakukan oleh banyak orang. Saya tertampar, dan teman-temanku yang lain juga mulai "menaikan arisanku." Agak heran juga sih saya, kenapa harus Real Madrid terus yang disebut? dan saya semakin kaget ketika kata "Bernabeu" disebut. Entah kenapa Kak Riza memilih nama Stadion itu yang disebut, padahalkan masih banyak Stadion lainnya yang gak kalah terkenalnya, seperti San Sirro, Old Trafford, Camp Nou, dll (Dan nyatalah arisanku benar-benar naik-saya menjadi bahan ejekan di kelas).

       Kalo ditanya "Apa sih untungnya nonton bola? Okelah kalo Team-mu menang, tapi kan cuma mereka yang senang, nah kamu dapat apa? Okelah kamu lihat permainan yang indah, kemudian?" 

       Saya cuma diam dan membiarkan teman-temanku men-Cc-kan kata-katanya Kak Riza pada saya. Hngga berakhirnya kelas saya diam. Tapi tidak pada postingan ini, saya tidak sedang diam.

          Memang sih sebagai Anak Komunikasi saya harus bijak menggunakan sosial media yang ada, status FB, Twitter, dan lain sebagainya. Ini memang benar, saya dukung malah untuk hal yang satu ini. Tapi saya gak bisa muna. Contohnya mengenai tweet-tweet saya di twitter yang mungkin sebagian banyak orang mengira kalo twitter saya itu setengah Fan Page-nya Pemain Bola. Bukannya saya korban media, tapi coba deh pikir lagi, bukan kah dengan "menilai" saya via twitter, itu berarti kalo yang menilai juga merupakan koban sosial media? Terus sekarang yang salah siapa dong? Rumput di Bernabeu, gitu?
Santiago Bernabeu

Santiago Bernabeu (again)

          Setiap orang pastilah punya idola masing-masing, yang memiliki kahlian di bidangnya masing-masing. Misalnya temanku Thiwi yang suka sama David Archuleta, atau Kaderia yang suka sama OK Taecyon, atau mungkin Yayu yang suka sama Putra Nababan (kebetulan beliau juga idola saya), atau Pipi yang suka sama Logan, dan saya yang suka sama Ricardo Kaka.Gak heran dong kalo kita follow akunnya idola kita? Follow hal-hal yang berbau dengan idola kita? Yakan?
Ricardo Izecson Dos Santos Leite
Idola saya semenjak SMP
           Buat saya pribadi twitter itu bukan hanya sekedar jejaring sosial belaka, tapi melampaui itu. Twitter merupakan jarak terdekat saya sama idola saya. Dimana lagi coba saya bisa negur langsung idola sendiri kalo bukan via twitter. Instagram? Ya, kan ane kagak punya kalo yang itu mah.OK lanjut. Menggunakan jejaring sosial untuk hal-hal seperti menegur idola menurutku tidak salah, namanya juga jejaring sosial

            Kembali bahas masalah tadi. "Apa untungnya kamu nonton bola?" Saya berani jawab "BANYAK!" Nih, saya paparin alasannya :
  1. Ketika nonton Bola saya bisa belajar mengenai Fair Play, Team-Work, dan Respect. Kalu bisa belajar hanya dengan melihat layar kaca saja, gak harus bacabuku, gak harus alami sendiri!
  2. Ketika nonton bola saya bisa belajar untuk memahami raut wajah mereka. Pernah  terbesit di kepala ku hal kayak begini : Ketika saya nyantai nonton bola sambil nongkrong bareng teman atau keluarga, ada loh orang yang diluar sana yang jadi tontonan orang lain, yang keringetan, yang lari kesana-kesini, dan memang itu pekerjaannya, kemudian dicela orang lain  dan dimaki hanya karna main buruk atau membuat keputusan yang tidak adil (dalam hal ini wasit).
  3. Ketika nonton bola biasanya banyak orang yang sengaja berkumpul bersama untuk nonton. Bukannya disitu bisa menjadi saran untuk bersosialisasi? Semua mata tertuju pada 22 orang yang ada di atas lapangan. Bukankah pertandingan kulit bundar itu sangat membantu untuk hal-hal seperti ini.
  4. Ketika nonton bola bukan cuma saya yang nonton, saya ingat juga yang di luar sana ada yang nonton pertandingan yang sama dengan cara yang berbeda. Kalo mungkin sebagian orang nonton di rumah, di Restoran mewah, ada loh sebagian orang lainnya yang cuma nonton di warung-warung kecil pinggir jalan sambil minum kopi. Bukannya itu bisa nambah penghasilan teman kita yang cari makan dengan cara berjualan? Peka dong.
  5. Ketika nonton bolasaya bisa belajar kalo olahraga itu penting untuk kesehatan.
  6. Ketika nonton bola saya merasa seperti menonton Premiere sebuah film baru yang dikemas dalam 2x45 menit secara bersamaan dengan orang lain di seluruh dunia, dimana gak ada satupun yang tau hasil akhirnya bakal gimana? Bukankah itu sebuah kejutan?
  7. Ketika nonton film saya bisa liat belajar mengenai teknologi, biar sedikit. Cara para Fotografer yang stanby membidik gambar, cara kameramen merekam, dan saya belajar.
  8. Ketika nonton bola saya belajar Bahasa Inggris. Ya, saya belajar listening. Saya belajar bagaimana cara memberi stress pada sebuah kalimat, juga pronountation. Saya belajar dari komentator yang bahkan saya tidak tahu siapa dia.
  9. Ketika menonton bola saya bisa lihat langsung idola saya, Ricardo Kaka. Walau terpisah layar kaca, lantas mengapa? Bahagia itu sederhana, dan jarak itu hanya setipis layar televisi.Itu pandanganku, saya tidak bermaksud agar pandanganmu sama seperti pandanganku. 
  10. Ketika saya menunggu pertandingan bola, saya belajar menulis, dan inilah hasilnya. Begadang yag bekualitas, semoga.
   Saya hanya mengungkapkan beberapa alasan saja, dan memberi penjelasan kalo nonton bola itu gak buang-buang waktu. Setiap hal memiliki sisi positif, hal tergantung kita, bisa atau tidak melihat hal yang postif itu bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun.

With lots of love.
Jayanti.